28 November 2012

KOMPAS.com: Siswa Ini Bersekolah Menggunakan Rakit

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Siswa Ini Bersekolah Menggunakan Rakit
Nov 28th 2012, 15:04

GARUT

Siswa Ini Bersekolah Menggunakan Rakit

Rabu, 28 November 2012 | 21:58 WIB

Dibaca:

Siswa Ini Bersekolah Menggunakan RakitKOMPAS/ INGKI RINALDI Ilustrasi: seorang bocah, Selasa (20/11/2012) terlihat di sebelah jalinan tali baja untuk menarik rakit yang melintasi Batang (Sungai) Surantih di Nagari Koto Nan Tigo Utara Surantih, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Rakit untuk alat penyeberangan sementara warga di Lambung Bukik dan Kayu Gadang itu belum bisa dipergunakan menyusul sejumlah penyempurnaan yang masih harus dilakukan.

GARUT, KOMPAS.com - Puluhan siswa SD dan SMP Cibalong, Kabupaten Garut, Jawa Barat, kembali bersekolah menggunakan rakit, Rabu (28/11/2012) karena air sungai meluap, sedangkan jembatan sebagai akses jalan utama ambruk sejak Januari 2012.

Salah seorang guru SDN Mekarmukti 2, Asep Sopendi, mengatakan, siswa yang tinggal di Kampung Cadas Bodas, Desa Mekarmukti, Kecamatan Cibalong, sebelumnya sejak dua pekan tidak dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar karena Sungai Cisanggiri meluap sejak memasuki musim hujan.

Ia mengatakan, siswa SD yang tinggal di seberang sungai berjumlah 90 orang. Sejak jembatan ambruk, biasanya mereka menyeberang dengan turun ke sungai.

Namun hujan yang terus mengguyur setiap hari, kata Asep, mengakibatkan seringkali anak didiknya tidak dapat sekolah karena arus sungai deras.

"Kalau dipaksakan menyeberang akan berbahaya, makanya siswa kami lebih memilih tidak sekolah, dan sekolah juga memakluminya," kata Asep.

Sementara itu, Pembantu Kepala SMP Satu Atap Cibalong, Pepen Purnama, mengatakan anak didiknya yang tinggal di kampung seberang sebanyak 42 orang.

Sebagian siswa itu, kata Pepen, tidak dapat sekolah ketika Sungai Cisanggiri meluap, namun beberapa orang siswa lainnya ada yang sekolah menggunakan sepeda motor dengan memutar arah dengan jarak tempuh selama satu jam.

"Ada siswa kami yang ke sekolah memakai sepeda motor dengan cara memutar arah yang jaraknya jauh. Badan jalannya juga rusak," katanya.

Salah seorang siswa SD kelas IV, Yayu Yuliandini mengaku senang bisa kembali sekolah meskipun harus menggunakan rakit saat menyeberang sungai.

Ia berharap, pemerintah segera memperbaiki jembatan yang ambruk agar mudah dan merasa aman saat menyeberangi sungai. "Nyeberang naik rakit sebenarnya takut, maunya jembatan dibangun lagi agar aman saat pergi sekolah," katanya.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.