04 Januari 2013

KOMPAS.com: Jalur Evakuasi ke Escape Building Kurang Memadai

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Jalur Evakuasi ke Escape Building Kurang Memadai
Jan 4th 2013, 12:28

Jalur Evakuasi ke Escape Building Kurang MemadaiSERAMBI INDONESIA/M ANSHAR Puluhan warga Banda Aceh menyelamatkan diri menuju bangunan penyelamatan tsunami (escape building) setelah diguncang gempa bumi berkekuatan 8,5 Skala Richter yang berpusat di sebelah barat Aceh, Rabu (11/4/2012).

BANDA ACEH, KOMPAS.com -- Di wilayah Aceh saat ini terdapat 10 bangunan penyelamatan (escape building) tsunami. Bangunan-bangunan itu tersebar di Banda Aceh (5 unit), Aceh Jaya (2 unit), dan Aceh Barat (3 unit). Namun, umumnya kondisi bangunan penyelamatan itu tak lagi memadai.

Meskipun secara umum kondisi fisik bangunan masih bagus, tetapi jalur penyelamatan menuju bangunan tersebut sempit dan hanya satu atau dua penjuru. Padahal, sesuai dengan standar penyelamatan, jalur evakuasi menuju bangunan penyelamatan semestinya empat penjuru.

Pengamatan Kompas, Jumat (4/1/2013), di jalur evakuasi menuju bangunan penyelamatan di Gampong Lambung, Meuraxa, dan Lampaseh, Kuta Alam, Banda Aceh, menunjukkan, hanya ada satu penjuru evakuasi. Itupun pada jalur yang ada di sekitarnya sudah dipadati dengan pemukiman penduduk. Bahkan, saat ini dibangun kios-kios oleh warga sekitar.

Selain itu, kesadaran warga sekitar bangunan penyelamatan untuk memanfaatkan bangunan tersebut saat gempa besar terjadi juga masih rendah. Hal ini terlihat saat gempa besar pada 11 April 2012 yang mencapai 8,5 SR. Kala itu, dari sekitar 1.000 orang kapasitas bangunan, hanya 50-80 orang yang memanfaatkannya.

Menanggapi hal itu, Kepala Subbagian Program dan Pelaporan BPBA, Fahmi Ridwan mengatakan, waktu masa rehabilitasi dan rekonstruksi, pembangunan bangunan-bangunan penyelamatan sudah memperhatikan aspek keberadaaan jalur evakuasi. Saat itu juga ditegaskan bahwa permukiman penduduk harus lebih dari 700 meter dari bibir pantai. Namun, seiring waktu, lokasi sekitar bangunan penyelamata itu dipadati oleh permukiman. Jalur evakuasi yang semestinya memadai menjadi sempit karena makin banyak pemukiman di sekitarnya.

"Pelebaran menjadi sulit dilakukan. Jalur menjadi sempit. Kebijakan kabupaten dan kota tak mampu mengendalikan tumbuhnya permukiman baru itu. Akibatnya, escape building tak lagi memadai," kata Fahmi.

Mengenai kesadaran warga memanfaatkan bangunan penyelamatan tersebut saat gempa besar, Fahmi mengatakan, hal itu memang masih menjadi tantangan di Aceh. Ingatan masyarakat akan ancaman tsunami cenderung pendek meskipun rasa trauma masih ada di benak mereka. Metode penyelamatan yang efektif masih belum menjadi ideologi. Akibatnya, saat terjadi gempa besar, warga lebih mudah panik dan memilih berlari berhamburan di jalan raya yang membuat upaya evakuasi kian sulit dan macet.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.