BANDAR LAMPUNG, KOMPAS.com - Kematian massal ikan budidaya keramba di Ringgung terus berlangsung. Total hingga Jumat (4/1/2013), sebanyak 376.000 ekor ikan berbagai jenis yang mati.
"Ikan-ikan itu mati dalam kurun waktu sebulan terakhir. Di antara jenis ikan yang mati ini adalah kerapu, mulai dari bibit hingga usia super (hampir panen)," ujar Ali Al-Hadar, Ketua Forum Komunikasi Kerapu Lampung Wilayah Ringgung.
Menurut dia, saat ini hanya tersisa sekitar 176.000 ekor ikan yang dibudidayakan di ratusan keramba jaring apung di Ringgung. Ikan-ikan ini diyakini mati akibat fenomena red tide atau ledakan populasi fitoplankton.
Hingga Jumat ini, warna perairan di Pantai Ringgung berwarna keruh, kadang coklat kehitaman, kadang hijau. Awok (56), salah seorang pemilik keramba di Ringgung, mengatakan, 2.800 ekor kerapu bebeknya yang hampir panen mati dalam beberapa pekan terakhir.
"Sekali kejadian, bisa seribu ikan mati. Modal tujuh tahun hampir habis. Kami harus mulai dari nol lagi," tuturnya.
Menurut Al Hadar, kasus kematian ikan serentak ini adalah yang terburuk dalam puluhan tahun terakhir. "Sepanjang sejarah budidaya ini ada, ini adalah yang terparah. Dulu, akibat serangan virus, dampaknya tidak seburuk ini," tuturnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.