HONG KONG, KOMPAS.com - Usai pesta kembang api besar-besaran malam harinya, awal tahun 2013 di Hong Kong tetap ramai. Namun, pada siang hari giliran diisi dengan demo besar-besaran. Penduduk Hong Kong turun ke jalan menuntut mundurnya pemimpin kota dan menuntut hak berdemokrasi lebih luas dengan pemilihan pemimpin secara langsung.
Puluhan ribu pemrotes turun ke jalan-jalan Hong Kong Selasa (1/1/2013) mendesak pemimpin kota Leung Chun-ying untuk mundur. Sejak berkuasa Juli lalu popularitas Leung menurun dan ia menghadapi mosi tidak percaya di parlemen setelah dituding membangun rumah mewah secara ilegal. Hal semacam itu adalah salah satu masalah politik yang peka di Hong Kong.
Mereka memegang poster-poster yang menggambarkan Leung sebagai mayat pengisap darah dan seekor serigala. Para pemrotes juga membawa bendera-bendera dari era kolonial Inggris.
Meskipun demikian, para pengunjuk rasa menggunakan skandal itu untuk mendesak hak pilih universal dalam memilih pemimpin Hong Kong. Wilayah tersebut diserahkan dari Inggris kepada Beijing tahun 1997 tetapi tetap mempertahankan status semi-otonomi, dengan jaminan kebebasan sipil seperti hak untuk melakukan protes yang tidak ada di China daratan.
Leung diplih Maret oleh komite pemilihan beranggotakan 1.200 orang yang dikuasai elite pro-Beijing. Sementara, tujuh juta penduduk kota itu menganggap hal itu campur tangan China dalam urusan lokal. Mereka pun menuntut demokrasi lebih luas 15 tahun setelah daerah itu diserahkan kepada kekuasaan China.
"Beri kami segera hak pilih universal! Leung Chun-ying mundur!" teria para demonstran.
Pemerintah China sebenarnya sudah menyiapkan rencana bahwa kepala ekskutif kota itu dapat dipilih langsung, namun baru dapat dimulai pada tahun 2017 dan oleh parlemen pada tahun 2020.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.