KOLAKA,KOMPAS.com - Kini harga bahan bakar minyak jenis premium dan solar di Kolaka mencapai Rp 10.000 per liter. Harga ini dipatok oleh para pedagang eceran yang sudah beberapa bulan terakhir menjamur di pusat Kota Kolaka, Sulawesi Tenggara.
Para pedagang eceran tersebut menawarkan dua pilihan harga kepada para pembeli, yakni harga Rp 7.000 untuk ukuran tiga perempat liter, dan Rp 10.000 untuk satu liter. Padahal harga premium di SPBU hanya Rp 4.500, sementara solar hanya Rp 4.500.
Meskipun terbilang tinggi, warga hanya pasrah dan tetap membeli BBM eceran tersebut, karena sebelum malam hari stok BBM di beberapa SPBU yang ada di dalam kota sudah ludes.
Warga pun tidak punya pilihan selain membeli BBM eceran yang telah disediakan para pengecer. "Kalau di SPBU sudah habis pastilah kita beli di pengecer walapun bansin itu harganya sudah naik 100 persen. Ini kan tidak ada pilihan lain," ungkap Sugi, salah satu pengendara yang membeli premium eceran, Minggu (27/01/2013).
Sugi juga menambahkan, seharusnya ada aturan yang jelas bagi para pengecer BBM tersebut untuk menentukan masalah harga. "Kita mau mengeluh di mana Pak. Yang kita inginkan itu kalau bisa ada aturan yang jelas masalah harga BBM eceran. Kan tidak mungkin juga kita larang orang untuk jualan. Tapi kan ada yang namanya 'harga masuk akal'. Baru mereka itu menjual rata-rata dekat dengan SPBU," tambahnya.
Berdasarkan pantauan Kompas.com, memang disetiap sudut SPBU ketika menjelang malam dan pagi hari para pedagang BBM eceran semakin marak. BBM yang mereka jual dalam jumlah yang sangat banyak. Hal ini sangat kontras apabila dibandingkan dengan pedagang eceran yang sangat jauh dari SPBU.
Bukan hanya premium saja yang mengalami hal tersebut. BBM jenis solar juga sudah semakin sulit ditemukan ketika menjelang malam. "Bayangkan kalau seperti kita ini yang butuh solar kalau malam. Mau beli di SPBU jangan harap, pasti kita larinya ke pedagang eceran. Mau atau tidak kita harus bayar sesuai dengan harga yang mereka telah tentukan. Satu liter itu Rp 10.000 dan kadang ukurannya kurang. Coba bapak perhatikan kalau sudah jam 1 siang solar habis, yang ramai dijual itu justru di pedagang eceran yang hanya berjarak beberapa meter saja dari SPBU," tegas Sakkir sopir truk.
Sayangnya, meskipun sudah jelas menjadi keluhan dan merugikan warga pengguna BBM hal ini belum menjadi perhatian pemerintah setempat atau instansi terkait. Sementara itu, informasi yang didapatkan dari Depo Pertamina Kolaka, setiap hari jatah suplai BBM ke SPBU yang ada di dalam dan luar kota Kolaka selalu normal.
"Kami suplai itu normal dalam tiap harinya. Masalah pedanga bbm eceran yang naikkan harga itu urusan pemerintah, bukan kami," ungkap pegawai Pertamina Kolaka yang namanya enggan disebutkan.
Editor :
Glori K. Wadrianto
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.