KLATEN, KOMPAS.com -- Ribuan warga saling berebut kue apem dalam tradisi Yaaqawiyu, di Jatinom, Klaten, pada Jumat (28/12/2012). Ribuan warga yang datang ke makam Kiai Gribig yang berada di kompleks Masjid Besar Jatinom,Klaten, rela berdesak-desakan untuk mendapatkan kue apem yang dipercaya bisa mendatangkan berkah.
Tradisi turun temurun yang digelar setiap bulan Sapar penanggalan Jawa, selalu dipadati warga. Tidak hanya dari Klaten, warga dari luar kota juga pun banyak yang menyaksikan ritual itu. Salah satunya Suripto (46), warga Boyolali, Jawa Tengah. Ia mengatakan setiap tahun berusaha mengikuti Yaaqawiyu.
"Apemnya saya tanam di kebun biar panennya banyak," katanya.
Sementara itu, Camat Jatinom, Anang Widjatmoko mengatakan, ada dua gunungan apem, lanang (laki laki) dan wadhon (perempuan), yang dikirab dari halaman kantor Kecamatan Jatinom menuju Masjid Besar Jatinom.
"Sebelum disebar, ada dua gunungan yang akan dikirab dari kantor kecamatan, dan setelah didoakan ulama masjid, akan diteruskan penyebaran apem," katanya.
Tradisi Yaaqawiyu dilakukan pertama kali oleh Kanjeng Kiai Gribig, salah satu ulama terkenal di wilayah Jatinom. Saat itu, Kiai Gribig mengajak warga membuat kue apem sebagai rasa syukur kepada Tuhan atas panen padi yang diperoleh.
Seiring berjalannya waktu, semakin banyak warga yang datang ke tradisi tersebut, pihak panitia terpaksa membangun beberapa panggung setinggi 6 meter, untuk melempar kue apem ke warga yang berdesak-desakan di bawah. Suasana riuh pun pecah saat panitia mulai melemparkan ratusan kue apem yang sudah didoakan, ke arah warga. Untuk tahun ini, panitia menyediakan lima ton kue apem untuk disebarkan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.