Cerber Endah Raharjo
Kuseberangi lobi hotel sambil melambai pada Fred, fotografer dari Sydney yang sudah beberapa bulan berburu foto keliling Myanmar. Setiap empat minggu ia terbang ke Bangkok atau Kuala Lumpur untuk istirahat dan mencari hiburan selama dua-tiga hari. Kulihat ia duduk sendirian di sofa, memangku laptop yang tersambung dengan kameranya. Dari jarak sekitar 10 meter, di bawah siraman cahaya lampu gantung di tengah-tengah lobi, senyum ramahnya bisa kulihat jelas.
Kami berkenalan saat sama-sama check-in dua malam lalu. Ia berbaik hati menukar selembar uang USD 100 milikku yang sedikit tertekuk dan rusak pada salah satu sisinya. Pihak hotel tidak mau menerima uangku itu. Mereka meneliti satu persatu ke-16 lembar uang pecahan USD 100 yang kubayarkan di malam aku check-in. Aku ingin membayar lunas biaya hotel selama 3 minggu, agar lega, tidak perlu menyimpan terlalu banyak uang tunai meskipun uang dan barang berharga kutitipkan di safe deposit box.
Di bulan April 2012, semua bentuk pembayaran di Myanmar masih dilakukan secara tunai. Hanya tempat-tempat tertentu saja yang menerima kartu kredit, apalagi debit. Bila membayar dengan mata uang asing, uangnya harus benar-benar crisp, bersih, dan baru.
"Berikan uangmu itu, kuganti dengan punyaku," ujarnya. "Fred. Fred Taylor." Ia tersenyum, memperkenalkan diri. "Jangan kuatir." Ia lalu mengeluarkan amplop plastik. "Uangmu harus dismpan di kantung semacam ini, agar tidak terlipat."
"Oh? Tapi nanti kamu bagaimana?" Meskipun senang aku ragu-ragu menerima tawaran baiknya. Aku sebenarnya masih punya uang tunai yang kusimpan di dompet lain. Setiap bepergian, uang tunai, kartu ATM dan kartu kredit selalu kupisahkan. Apalagi di Myanmar ini aku harus membawa uang tunai banyak sekali. Itulah makanya aku ingin melunasi biaya hotel, supaya lebih tenang.
"Temanku akan pulang ke Australia besok pagi. Aku bisa minta tukar nanti. Kami biasa melakukannya. Ayolah. Jangan kuatir. Di Australia uang secantik milikmu itu berharga sepuluh kali lipat." Ia bercanda, tawanya keras. Dua resepsionis yang menolak uangku itu tersipu-sipu. Mereka pasti merasa diledek.
"Terima kasih," senyum lebarku hampir membelah pipi. "Tapi dimana temanmu?" Aku masih merasa tidak nyaman dengan kebaikannya.
"Hey. Kamu jangan kuatir." Tubuh tinggi-kurusnya condong ke depan. "Percayalah, kami biasa melakukannya. Dia ada di salah satu kamar di hotel ini." Matanya yang riang terlihat tulus. "Kamu dari mana? Namamu?"
"Indonesia. Namaku Febria."
Ia mengulurkan lengan kanannya yang penuh bulu. Kami lalu berjabat tangan. Senang bertemu orang yang periang dan sangat baik seperti itu.
Berteman dengan Fred banyak manfaatnya. Selain suka menolong dan ramah, lelaki awal 40-an berambut keriting pirang itu juga rendah hati. Aku harus belajar caranya membawa diri di pergaulan internasional seperti ini. Aku masih sering malu-malu, ragu-ragu, menahan diri; membuat kesan kurang percaya diri meskipun kemampuanku tak kalah dengan orang-orang bule itu.
Aku hendak terus menuju tangga, kamarku di lantai dua, Fred melambai-lambai, memintaku bergabung. Sebenarnya aku lungkrah, namun aku tak tega menolaknya.
"Hellooo... Febria from Indonesia!" Fred melucu. Kami berbasa-basi sebentar, bertukar cerita kegiatan kami seharian. Wajah Fred tampak bugar meskipun pakaiannya lusuh, seperti cucian yang beberapa hari dibiarkan teronggok di ember.
"Aku punya foto cantik sekali. Mau lihat?" Ia memutar laptopnya sambil memberi isyarat agar aku duduk mendekat.
"Haaah!" aku berteriak girang, "Itu aku," seruku. Di layar terlihat fotoku – close-up – sedang bicara dengan petugas concierge. Wajahku sangat dekat dengan wajah petugas berseragam itu, sepertinya kami tengah membicarakan suatu hal yang serius.
"Ada banyak lagi." Fred menampilkan beberapa fotoku. Ada yang sedang melongok keluar jendela taksi sambil menggenggam ponsel, ada yang di dekat lift terlihat gelisah, ada yang duduk di sofa lobi sedang menggaruk tengkuk. Lucu sekali semua ekspresi wajahku.
"Kapan kamu memotret semua itu?"
"Dua hari ini. Kapan lagi. Aku selalu duduk di sini kalau tidak ke luar. Mengamati orang-orang. Banyak yang kujadikan sasaran. Salah satunya kamu." Ia tampak puas atas hasil kerjanya. "Dan aku paling suka yang ini. Cantik sekali." Ia menunjukkan fotoku yang lain, bergaun batik, duduk manis sendirian di restoran hotel. Bila sedang capek, aku sering berdandan untuk diri sendiri sambil melakukan sesuatu yang kusenangi: makan di restoran, menikmati pastry atau es krim di cafe, jalan-jalan ke mal atau berburu buku baru di toko buku favoritku. Rupanya Fred menangkap momen intimku yang sangat personal itu. Beberapa saat kupandangi fotoku sendiri. Ya. Di foto itu aku tampak ayu.
"Hey. Ada seseorang yang mungkin mencarimu," Fred melihat ke arah front desk. "Sudah beberapa saat dia berdiri di sana, memperhatikanmu."
Kuikuti arah pandangan Fred. Kyaw! Sesaat otakku berhenti bekerja, tubuhku menjelma arca. Kami bertatapan dari kejauhan.
"Oh, Tuhan!" seruan Fred menyadarkanku. Dalam beberapa detik itu aku menyadari telah terjadi sesuatu di antara Kyaw dan aku. Fred mungkin bisa merasakannya juga. Ia menatap kami berganti- ganti.
"Itu Kyaw Win," Fred berbisik.
"Ya."
"Ah! Ia mendatangimu. Sebaiknya aku pergi." Fred tergesa menutup laptopnya.
"Hey. Jangan pergi. Kamu kenal dia?"
"Semua orang kenal Kyaw Win."
"Hello Fred." Kyaw sudah berdiri di depan kami. Longyinya sedikit kusut tapi tidak mengurangi pesonanya. Tas pinggang kecil menutupi simpul longyinya.
"Kyaw Win." Fred berdiri, menyalaminya, seperti bertemu teman lama. Mereka saling bertukar kabar seperlunya.
"Hello Febria." Kyaw tersenyum dengan sepasang mata almonnya.
Ia menyebutku Febria, bukan Bree. Aku mengucap 'hai' nyaris tanpa suara. Aku masih kisruh dengan kejadian seharian tadi di kantor; juga terpukau oleh cara kami saling memandang beberapa menit lalu.
"Sepertinya aku memang harus pergi," kata Fred, mengemasi barangnya.
"Kami yang akan pergi," Kyaw memaksaku dengan sorot matanya. "Ada yang harus kita bicarakan. Tapi tidak di sini. Tempat ini disadap dan banyak kamera tersembunyi. Ayo, Febria."
Aku seperti kucing menguntit sang tuan yang menenteng sepiring teri.
"See you, Fred," ujar Kyaw, mengambil ranselku yang tertinggal di sofa.
Fred mengucapkan sesuatu tentang foto-fotoku, namun tidak begitu kudengar. Aku tidak sepenuhnya menyadari apa yang terjadi berikutnya, tahu-tahu kami sudah di dalam taksi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.