SETE, Kompas.com - Seorang instruktur menembak di Perancis Selatan marah kepada tetangganya karena mengadakan pesta dan menyebabkan kebisingan, sehingga dia mengamuk pada Sabtu (1/12/2012) pagi. Akibatnya, dua orang tewas dan dua orang lainnya mengalami luka. Demikian penuturan polisi.
Awalnya, pria berusia 49 tahun yang menjadi instruktur di sebuah tempat latihan menembak itu hanya turun ke bawah untuk menemui tetangganya yang sama-sama tinggal di sebuah apartemen di kota Sete, Perancis, tersebut. Dia meminta mereka yang sedang merayakan pesta hari ulang tahun itu untuk mengecilkan musik.
Ketika mereka menolak permintaannya, sang instruktur pun memberikan peringatan: "Saya akan pulang ke rumah dan saya akan kembali untuk membunuh kalian," ujar jaksa lokal, Brice Robin.
Ternyata benar, karena instruktur itu menepati janjinya. Menurut polisi, dia kembali pada pukul 02.00 dini hari, dan langsung menerobos masuk ke apartemen tetangganya tersebut, serta melepaskan tembakan.
Kemarahan yang memuncak itu membuat sang instruktur tak bisa menahan emosi. Dia terus mengejar dan menembaki para peserta pesta yang lari kocar-kacir karena ketakutan. Satu orang sempat menelepon polisi memberitahukan situasi tersebut, sebelum dia jatuh pingsan.
Menurut Robin, akibat peristiwa itu tiga orang laki-laki dan seorang wanita mengalami luka. Pada Sabtu malam, dia mengumumkan bahwa dua korban, yakni lelaki berusia 42 tahun dan 36 tahun akhirnya meninggal dunia di rumah sakit karena luka yang dialami cukup parah. Pria yang lebih muda itu adalah penyewa di apartemen itu. Sedangkan sang wanita dilaporkan dalam kondisi kritis. Dia terus berjuang untuk tetap hidup.
Seorang anak kecil yang tidur di apartemen itu saat kejadian, selamat dari cedera, begitu juga dengan satu pasangan yang bersembunyi di bawah meja, selama sang instruktur mengamuk.
Menurut para tetangga, instruktur tersebut memang seorang yang sangat tertutup dan senang menyendiri. Usai melakukan penembakan tersebut, dia dengan tenang kembali ke kamarnya, lalu menyerahkan diri kepada polisi tanpa perlawanan.
Di hadapan polisi, sang instruktur mengatakan bahwa dirinya sedang menjalani pengobatan "karena dia tidak bisa tidur" sejak jam kerjanya berubah 18 bulan lalu. Perubahan jam kerja itu memaksanya untuk bangun pukul 04.00 pagi.
Dalam penggeledahan apartemen sang instruktur, polisi menemukan enam senjata api, termasuk yang digunakan dalam insiden tragis itu. Ditemukan pula sekitar 5.000 amunisi.
Catatan redaksi: berita terbaru, karena sebelumnya dikabarkan 1 orang tewas dan tiga luka.
Editor :
Aloysius Gonsaga Angi Ebo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.