03 Desember 2012

KOMPAS.com: Geliat Asmat Tak Kenal Lelah

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Geliat Asmat Tak Kenal Lelah
Dec 3rd 2012, 00:34

KOMPAS/B JOSIE SUSILO HARDIANTO Penggunaan perahu motor di Asmat mulai menggusur penggunaan perahu tradisional. Pada satu sisi penggunaan perahu motor mempercepat mobilisasi, tetapi di sisi lain penggunaan perahu motor menyebabkan ketergantungan pada bensin serta menyisihkan perahu tradisional khas Asmat.

ELIAS Ansap (30) berdiri tegak sambil memegang dayung berukir yang dibuatnya. Dalam lelang dayung Oktober lalu, hasil karyanya itu terjual Rp 5 juta. Tidak sepadan dengan jerih payahnya.

Dayung itu sepanjang lebih kurang tiga meter, berias bulu burung kakaktua putih pada hulunya. Muka dayung diukirnya dengan motif tradisional, cukup rumit dan cukup halus. Elias membutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk membuatnya.

"Bahkan pada malam hari pun saya masih mengukir dayung ini di jew (rumah adat Asmat)," kata laki-laki anak muda Asmat ini.

Bukan soal lama waktu mengukir yang membuat Elias tidak puas dengan harga yang diterimanya. Bagi sebagian orang, bisa jadi harga itu demikian mahal untuk sebuah dayung. Apalagi, bagi para wisatawan yang harus menyisihkan begitu banyak biaya untuk mencapai Agats, ibu kota Kabupaten Asmat.

Kondisi itu adalah kendala bagi majunya potensi kebudayaan Asmat. Namun, di sisi lain, melihat praktik para makelar barang seni yang memburu karya pengukir Asmat dengan harga murah, itu fenomena yang sedikit melegakan.

Harga mahal

Minimnya pembeli dari luar Agats dan ancaman para makelar membuat para pengukir menempatkan lelang dalam Festival Asmat sebagai kesempatan untuk memperoleh cukup uang dari karya pahatan terbaik mereka.

Bupati Asmat Yuventius Mbiakai mengakui, harga sebetulnya adalah hal yang relatif. Dalam keyakinan pengukir Asmat ada relasi internal antara dirinya dan leluhur saat ukiran itu dibuat, sebagaimana kisah Fumiripits. Sosok Fumiripits dimitoskan sebagai manusia pertama Asmat yang menghidupkan dua patung ukirannya dengan tabuhan tifa. Hal itu sesungguhnya tak tergantikan dengan materi.

Namun, di sisi lain, Mbiakai juga mengakui tak mudah untuk terus melestarikan nilai-nilai itu apalagi dalam arus budaya baru saat ini. Sejak bertahun-tahun lalu masyarakat Asmat telah berkenalan dengan dunia luar yang membawa banyak tawaran baru. Tawaran itu sebagian hanya dapat dipenuhi jika masyarakat memiliki cukup uang.

Tuntutan untuk memenuhi kebutuhan itu yang diakui Mbiakai cukup dominan menjadi alasan bagi para pengukir Asmat membuat ukiran. Apa yang sebelumnya menjadi bagian dari upacara adat perlahan menjadi barang dagangan. Bagaimanapun hal itu tak dapat dihindari.

Gempuran arus budaya baru tak hanya menawarkan kemudahan. Perubahan hadir sedemikian rupa dengan membawa tegangan dahsyat.

Dalam lelang di Lapangan Yos Sudarso Agats, Oktober lalu, setiap dinas di lingkungan Pemerintah Kabupaten Agats dibekali dana Rp 40 juta dari anggaran pemerintah. Uang itu digunakan untuk membeli ukiran milik warga yang masuk dalam proses lelang. Ukiran-ukiran terbaik yang memenangi lomba tidak dijual. Ukiran itu disimpan dan menjadi koleksi Museum Asmat.

Langkah itu seolah menggenapi sejarah tahun 1961 ketika mantan Uskup Agats Alphonse Sowada mencoba menghidupkan kembali praktik mengukir di kalangan masyarakat Asmat. Dalam buku Asmat, Mencerap Kehidupan Dalam Seni yang diedit oleh Ursula Konrad (Uskup Agats yang saat ini tinggal di Amerika) diungkapkan pentingnya melakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk melestarikan ukiran Asmat.

Dalam tulisannya, Mgr Sowada menyebutkan, menjelang akhir bulan Oktober 1961 dan hari-hari awal bulan November, Michael Rockefeller, sejarawan, dan Rene Wasing, ahli antropologi, mengunjungi dirinya di Sawa dan Erma. Michael membeli beberapa perisai, pinggan (mangkuk) sagu, tombak, serta kayu di Sawa. Ia juga membeli patung ukir dari rumah adat marga Bu-Agani dan sederet busana roh dari desa Pupis.

Sewaktu mengadakan perjalanan ke desa-desa, saat malam telah larut benar, mereka membicarakan kebudayaan Asmat dan mengangan-angankan masa depannya. Mereka paham bahwa ukiran bagi orang Asmat merupakan unsur pokok untuk kelestarian budaya.

Michael dan Sowada setuju akan membeli barang-barang seni orang Asmat dan akan menjamin adanya penyalur-penyalur penjualan di Amerika Serikat. Namun, rencana itu tidak terwujud karena Michael menemui ajalnya secara tragis di perairan berombak Teluk Flamingo. Kala itu gelombang laut membalikkan perahunya sewaktu berlayar ke Amanamkai untuk mengunjungi David Eyde, seorang ahli atropologi yang melakukan penelitian di sana.

Uskup Agats saat ini, Mgr Aloysius Murwito, tidak tinggal diam. Selain mendorong para pengukir untuk masuk menjadi anggota credit union dan menyisihkan sebagian uang hasil lelang, Aloysius juga mencoba mengembangkan promosi budaya Asmat.

Saat ini, selain mematangkan rencana pembangunan museum baru, Keuskupan Agats juga tengah menggandeng beberapa pengusaha dari Jakarta untuk berinvestasi di Asmat. Mereka akan membantu mendampingi masyarakat Asmat untuk beradaptasi dengan perubahan, belajar berjaringan, dan memasuki ekonomi pasar dengan mengoptimalkan potensi lokal.

Hal itu ditunjang dengan penguatan pendidikan bagi anak- anak muda Asmat hingga mereka siap masuk dalam percaturan usaha.

Inilah sebagian geliat agar Asmat tetap eksis.... (JOS)

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.