01 Mei 2013

KOMPAS.com: Berburu Masakan Rumahan

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Berburu Masakan Rumahan
May 1st 2013, 01:36

KOMPAS/ANTONY LEE Pengunjung bersantap di Rumah Makan Purwakalih di Bogor Selatan, Kota Bogor, Jawa Barat, Sabtu (20/4/2013).

DERETAN mobil yang terparkir di halaman depan Rumah Makan Purwakalih, di Kota Bogor, Jawa Barat, lalu riuh suara pengunjung yang menyesaki rumah makan itu menarik kami untuk singgah. Biasanya, rumah makan yang ramai itu berarti masakannya enak.

Lokasi rumah makan itu pun tidak berada di jalur utama Kota Bogor. Letaknya agak menyempil dan masuk di jalan menuju Batu Tulis di Lawang Gintung, Bogor Selatan. Kawasan ini masih asri dengan pohon-pohon tua yang menjulang. Dari arah Jakarta bisa keluar dari Pintu Tol Baranangsiang, lalu menuju Tajur, sebelum berbelok masuk ke arah Lawang Gintung-Batu Tulis.

Pada Kamis (11/4/2013) siang, rumah makan yang tampilan luar ataupun penataan interiornya sangat sederhana itu sudah dipenuhi puluhan pengunjung.

Sebagian besar lauk di rumah makan itu ternyata sudah habis. Hanya tersisa beberapa potong bakwan udang, empal, dan babat. Kalau menu masih lengkap, pengunjung bisa menjajal lidah goreng dan pepes. Aneka makanan itu disajikan di meja sehingga pengunjung tinggal mengambilnya sesuka hati.

Kami memesan menu andalan yang ditawarkan rumah makan ini, nasi dan sayur asem. Nasi hangat ditambah sayur asem yang bumbunya terasa tidak terlalu mencolok, serta beberapa potong empal dan bakwan udang, mampu membuat mulut tak berhenti mengunyah. Bakwan dengan taburan udang yang jumlahnya lebih dari enam potong seolah mengundang untuk terus menyantapnya.

Makan di sini rasanya pas. Seperti sayur asem di rumah orangtua.

-- Asep

"Makan di sini rasanya pas. Seperti sayur asem di rumah orangtua," tutur Asep (34), warga Bogor Timur, yang menyempatkan diri datang bersama keluarga setidaknya dua minggu sekali.

Rumah Makan Purwakalih ini terkadang juga dikenal dengan nama Sayur Asem Purwakalih. Nama Purwakalih diambil dari nama situs kuno yang disebut warga Purwakalih atau Purwa Galih. Situs itu persis berada di sisi rumah makan tersebut.

Awalnya, Rumah Makan Purwakalih tak lebih dari sekadar warung kecil-kecilan di depan Istana Batu Tulis pada 1970-an. Kira-kira, letaknya sekitar satu kilometer dari lokasinya saat ini. Awalnya, aneka makanan ini disajikan untuk para sopir bemo yang kerap mangkal di kawasan itu. Baru pada tahun 1980-an, rumah makan tersebut pindah ke Lawang Gintung.

Sop sumsum

Rumah makan ini buka setiap hari dari pukul 07.30 hingga 16.00. Menurut Sri Mulyati (55), pemilik rumah makan ini, setiap hari ia bisa menyiapkan empat panci sayur asem. Pada akhir pekan, sebagian besar pengunjungnya berasal dari Jakarta, termasuk beberapa pesohor pun kerap mampir. Sri mengaku tak memiliki resep khusus.

"Bumbu sama saja. Cuma mungkin beda tangan yang meracik. Nasinya saya masak pakai kayu bakar," tuturnya.

Kalau ingin mencoba makanan selain makanan sunda, tinggal berjalan kaki sekitar 50 meter dari Rumah Makan Purwakalih. Di situ ada Rumah Sumsum.

Rumah makan yang lebih "modern" dari Purwakalih ini menawarkan berbagai makanan dengan bahan baku utama sumsum.

Ada sop sumsum, nasi bakar sumsum pedas, nasi pepes sumsum, nasi tim sumsum, sumsum goreng, bakso sumsum, dan kerupuk sumsum.

Sop sumsum disajikan di mangkuk besar. Tulang besar memenuhi mangkuk itu. Dengan sumsum putih terlihat menyembul dari tengah tulang itu. Sebuah sedotan dan sendok pipih panjang diletakkan di samping tulang. Sumsumnya tidak terlalu banyak. Hanya beberapa kali sedot saja, sumsumnya ludes. Bumbunya kaya rempah sehingga menghangatkan tubuh.

Nasi bakar sumsum pedas juga nikmat dan gurih. Rasa segar terasa saat menyantap sumsum yang dicampur dengan nasi yang dibungkus daun pisang, lalu disajikan dengan irisan cabai merah segar dan bawang merah serta saus kacang. Rasa pedasnya cukup nendang.

Rumah makan ini buka dari pukul 10.00 hingga pukul 19.00. Namun, biasanya pada akhir pekan tutup lebih awal lantaran kehabisan bahan baku akibat ramainya pengunjung. Padahal, menurut Rian (22), pengelola Rumah Sumsum, saat akhir pekan mereka sudah menyiapkan 100 porsi sop sumsum.

"Kadang-kadang ada pengunjung yang kurang puas makan satu porsi sop sumsum, akhirnya pesan dua. Namun, sebaiknya jangan terlalu banyak kalau punya kadar kolesterol tinggi," tutur Rian.

Jika ingin berpetualang dengan rasa, coba saja padukan menu Rumah Makan Purwakalih dan Rumah Sumsum. Pesan- lah menu sumsum di Rumah Sumsum tanpa nasi. Setelah menyantap makanan di Rumah Sumsum, lanjutkan makan di Rumah Makan Purwakalih. (AST/GAL) 

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.