
KOMPAS/INGKI RINALDI
Terumbu karang Goniopora sp dengan jenis pertumbuhan submasif dikelilingi ikan-ikan indikator di di perairan Pulau Pisang Gadang, Kota Padang, Sumatera Barat, Sabtu (26/5). Tutupan terumbu karang baru mulai terlihat di kawasan perairan itu sekitar tiga tahun terakhir.
OSLO, KOMPAS.com - Ilmuwan mengingatkan bahaya pengamasan Laut Arktik akibat tingginya emisi karbon dioksida. Pengasaman bisa merusak ekosistem Arktik yang rentang serta berdampak besar pada manusia.
Berdasarkan studi yang dipimpin oleh Richard Bellerby dari Bjerknes Centre for Climate Research yang dipaparkan Senin (6/5/2013) dalam konferensi di Bergen, Norwegia, keasaman laut meningkat 30 persen sejak era industri dan mencapai level tertinggi dalam 55 juta tahun.
"Lautan Arktik lebih rentan dari lautan lain karena air dinginnya menyerap lebih banyak karbon dioksida. Lautan itu juga disuplai oleh air sungai dan es yang meleleh yang membuat netralisasi akibat pengasaman oleh karbon dioksida sulit terjadi," ungkap Bellerby.
Lebih lanjut, Bellerby menuturkan, peningkatan pencarian es Arktik juga semakin memperparah. Air bertambah sehingga penyerapan karbon dioksida juga bertambah. Keasaman perairan Islandia dan Barents berkurang 0,02 per dekade sejak akhir tahun 1960an.
Peningkatan keasaman sulit dikembalikan ke nilai semula. Bahkan jika emisi karbon dioksida dihentikan, butuh puluhan ribu tahun untuk mengembalikan pada nilai keasaman sebelum permulaan era industri.
Pengasaman laut mengancam beragam jenis spesies mulai terumbu karang, hewan lunak dan hewan pteropoda seperti malaikat laut dan kupu-kupu laut. Pengasaman juga berpotensi menyebabkan kepunahan spesies-spesies bintang laut.
Gangguan pada satu tingkatan ekosistem berpotensi besar mengganggu kebutuhan tingkatan lain dalam eksositem tersebut. Kepunahan beberapa spesies berdampak pada minimnya stok ikan yang akhirnya juga mengancam kelangsungan hidup manusia, terutama masyarakat adat yang sangat bergantung pada laut.
Beberapa spesies mungkin menikmati keuntungan dari pengasaman lautan. Namun, hal itu bukan alasan untuk tidak bertindak. Sam Dupont dari Gothenburg University di Swedia seperti dikutip AFP, Senin, menegaskan kembali pentingnya memerhatikan masalah perubahan iklim, bukan cuma soal krisis ekonomi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.