JAKARTA, KOMPAS.com - Kekhawatiran pelaku usaha di kawasan Jalan Fatmawati bahwa usaha mereka akan mati bila mass rapid transportation (MRT) dibangun berupa jalur layang (elevated) dinilai berlebihan. Pembangunan MRT dengan pola layang sekalipun, disebut justru bakal semakin mengembangkan kawasan itu.
"Wilayah yang dilalui akan memperoleh keuntungan karena akan ada 160 ribu orang per hari yang bolak-balik," kata Kepala Dinas Perhubungan DKI Jakarta Udar Pristono dalam acara dialog Ada Apa Berita dengan tajuk "Warga Protes, MRT Jalan Terus" di JAK TV, Kamis (9/5/2013) malam. Berbicara melalui telepon interaktif, Udar mencontohkan MRT di Bangkok, Thailand, yang separuh rutenya juga menggunakan jalur layang terbukti tak mematikan ekonomi di kawasan yang dilintasi.
Justru, kata Udar, keberadaan MRT membuat nilai jual properti akan meningkat. "Memang tanahnya akan terpotong tetapi nilainya akan makin berkembang. Negara-negara tetangga juga demikian. Seperti Skytrain di Bangkok yang seluruhnya melayang," jelasnya.
Sejumlah warga Jakarat Selatan yang tergabung dalam Masyarakat Peduli MRT menentang keras apabila Pemprov DKI Jakarta memaksakan pembangunan MRT Jalur Layang di sepanjang rute Sisingamangaraja-Lebak Bulus. Menurut mereka, rencana tersebut akan mematikan perekonomian di sepanjang ruas itu.
Pembangunan MRT rencananya akan dilakukan sepanjang Lebak Bulus di Jakarta Selatan hingga Kampung Bandan, Jakarta Pusat. Proyek ini terdiri dari dua jenis konstruksi, yakni jalur bawah tanah (underground) dari Kampung Bandan hingga Jalan Sisingamangaraja, dan jalur layang (elevated) mulai Jalan Sisingamangaraja hingga Lebak Bulus.
Editor :
Palupi Annisa Auliani
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.