09 Mei 2013

KOMPAS.com: Hilton pun Kepincut Main di Tengah

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Hilton pun Kepincut Main di Tengah
May 9th 2013, 04:17

SHANGHAI, KOMPAS.com - Terminologi kelas menengah memang masih mutitafsir. Seperti apa demografi masyarakat yang tergolong kelas ini juga masih terdapat perbedaan esensial. Walhasil, setiap individu atau pun institusi memiliki batasan sendiri tentang "kelas menengah" ini.

Dalam lima tahun ke depan kami dan juga pemain besar lainnya akan konsentrasi dan mengisi ceruk kelas menengah. Dari hotel jenis ini, Home Inn bisa melipatgandakan tarif harian rata-rata sebesar 70 persen.

-- Jason Zong

Namun, survey McKinsey Global Institute bisa diambil dan mendekati esensi artikel ini. McKinsey menyebut kelas menengah dengan istilah "consuming class". Definisinya adalah individu yang memiliki pendapatan sebesar 3.600 dollar AS atau setara Rp 5,6 juta. Pada kelas menengah terdapat potensi keuntungan. Setidaknya ini yang dilihat oleh para pengusaha hotel di China.

Menurut Vice President Development Wyndham Group Brian Liu, segala hal yang berkaitan dengan kelas menengah, produk apapun itu pasti berkinerja baik. Termasuk hotel ekonomis (budget hotel). Kendati sistem klasifikasi hotel di China sangat rumit dan kompleks, namun hotel untuk kelas menengah pasti tingkat okupansinya tinggi. Pasalnya, hotel menengah tidak dapat dibedakan dengan yang lain. Sementara hotel mewah tidak bisa menjadi bujet. Tapi hotel menengah bisa menjadi keduanya; murah dan berbeda.

"Ambiguitas" hotel menengah tersebut, memaksa pebisnis perhotelan menggarap ceruk pasar ini. Selain nama-nama domestik macam Homes Inn, juga merek beken internasional Hilton Worldwide. Jaringan hotel dunia ini mengisyaratkan beberapa kontrak perdana anyarnya untuk membuka Hilton Garden Inn Hotels di China. Padahal sebelumnya, mereka tak punya satu pun properti untuk kelas ini. Namun, ketika jumlah kelas menengah China meledak dengan daya konsumsi yang juga tinggi, Hilton siap membuka jaringannya di negeri Tirai Bambu akhir tahun ini atau paling lambat akhir tahun depan.

Sedangkan perusahaan hotel domestik yang secara tradisi menggarap segmen ini, sebut saja Home Inns & Hotels Management dan Jingjian Inn bahkan memperbesar kapitalisasinya. Menyusul pengembangan eksplosif dari brand-brand hotel ekonomis lainnya.

Menurut COO Home Inns Jason Zong, pihaknya hingga saat ini memiliki 3.000 hotel. Sepuluh di antaranya berklasifikasi menengah. Perusahaan merencanakan menambah 10 hotel lagi tahun ini karena tingginya permintaan.

"Dalam lima tahun ke depan kami dan juga pemain besar lainnya akan konsentrasi dan mengisi ceruk kelas menengah. Dari hotel jenis ini, Home Inn bisa melipatgandakan tarif harian rata-rata sebesar 70 persen," tutur Jason.

Ada yang menarik dari profil kelas menengah. Preferensi mereka terhadap kualitas layanan hotel telah berubah. Kelas ini lebih kritis dan meminta servis dengan kualitas lebih tinggi. Mereka akan dengan senang hati membayar 300 hingga 600 renmibi (Rp 469.900-Rp 939.800) untuk hotel menengah berfasilitas lengkap, sebaliknya mereka juga tidak berkeberatan bermalam di hotel berkelas sama dengan tarif lebih rendah sekitar 200-250 renmibi (Rp 313.267-Rp 391.584).

VP Development Accor Wayne Li menambahkan, pengelola hotel kelas menengah tak harus khawatir dengan kinerja. Hanya dengan tarif 200-250 renmibi, sebuah hotel kelas menengah bisa untung pada tingkat okupansi 60 persen saja.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.