Richard Budihadianto, Direktur Utama GMF Aeroasia mengatakan, penyebab penurunan itu lantaran sustnya jumlah penumpang. "Dibandingkan kuartal I tahun lalu, jumlah klien yang menggunakan jasa kami turun sekitar 15 persen ," ujarnya, Senin (6/5/2013).
Kendati demikian, hal itu tidak membuat manajemen GMF mengubah target 2013. Richarad optimistis, pihakanya bisa mengantongi pendapatan sebesar 260 juta dollar AS di akhir tahun ini. Angka itu naik 30 persen dari pencapaian tahun lalu yang sebesar 200 juta dollar AS.
Demi mengejar target itu, GMF telah menyiapkan strategi bisnis. GMF Aeroasia akan membangun hanggar baru. Ini merupakan hanggar ke empat yang dimiliki GMF. Richard memperkirakan, hanggar baru yang rencananya dibangun di Bandar Udara Soekarno-Hatta ini akan menelan dana sekitar Rp 500 miliar.
Total luas hanggar baru ini sektiar 64.000 meter persegi (m2). Di saat yang sama, kata Richard, perusahaan juga akan mengoptimalkan operasi tiga hanggar lainnya.
Selain itu, GMF akan bekerjasama dengan perusahaan lain. Anak usaha BUMN penerbangan ini sedang menyusun perjanjian kerjasama berupa joint venture dengan 10 perusahaan penerbangan lain.
Setelah menggandeng Aerospace, GMF berencana merangkul produsen burung besi asal Prancis, Airbus. Namun, Richard tidak menjelaskan lebih lanjut mengenai rencana korporasi tersebut.
Ia hanya bilang, saat ini pasar maintenance, repair dan overhaul (MRO) dalam negeri nilainya mencapai 850 juta dollar AS. Sedangkan yang ditangani di dalam negeri hanya 30 persen, sisanya diurus di luar negeri. "Ini peluang yang ingin kami manfaatkan," tuturnya.
GMF mengincar proyek perawatan dan perbaikan pesawat Airbus A320 di Myanmar dan Thailand. Jika tidak ada aral melintang, GMF sudah mendapat izin dari pemerintah Myanmar untuk mengembangkan bisnis di sana. Sedangkan, di Thailand, diperkirakan baru terealisasi di akhir 2013 atau awal 2014.
Untuk tahap awal, GMF menargetkan bisa melakukan perawatan dan perbaikan atas 14 pesawat Airbus A320 dari beberapa maskapai penerbangan asal Myanmar. Biasanya, perawatan pesawat dilakukan lima tahun sekali dengan biaya perawatan 500.000 dollar AS.
Garuda Maintenance Facility merupakan salah satu anak usaha GIAA yang dipersiapkan untuk go public. Handrito Hardjono mengatakan, total saham yang mungkin akan dilepas dalam hajatan IPO nanti sekitar 10 persen hingga 20 persen.
"Kebutuhan dana sekitar 100 juta dollar AS untuk beberapa tahun," kata dia. Jika persiapan lancar, maka penawaran saham perdana itu bisa dilakukan di semester II 2013 nanti. (Ragil Nugroho/Kontan)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.