22 Mei 2013

KOMPAS.com: 8 Jenazah Korban Terowongan Freeport Diterbangkan ke Tempat Asal

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
8 Jenazah Korban Terowongan Freeport Diterbangkan ke Tempat Asal
May 22nd 2013, 01:46

8 Jenazah Korban Terowongan Freeport Diterbangkan ke Tempat AsalAP Photo/ PT Freeport Indonesia Foto yang diambil dan dipublikasikan PT Freeport Indonesia, Jumat (17/5), memperlihatkan tim penyelamat berusaha menjangkau tambang bawah tanah yang runtuh untuk menyelamatkan pekerja yang masih terjebak. Sebanyak 22 pekerja masih terjebak di tambang yang runtuh, Minggu (19/5/2013).

TIMIKA, KOMPAS.com - Seluruh korban runtuhnya terowongan tambang bawah tanah PT Freeport Indonesia tuntas dievakuasi, Selasa (21/5/2013) malam. Sebagian jenazah korban sudah diterbangkan ke daerah asal masing-masing, dan sebagian yang lain akan menyusul.

Rabu (22/5/2013) pagi, setidaknya dua penerbangan mengantar jenazah para korban reruntuhan ke daerah masing-masing. Penerbangan pertama, menggunakan pesawat Trigana, mengantarkan jenazah Daniel Tedy Eramuri ke Manokwari, Papua Barat.

Berikutnya, tujuh peti jenazah sudah siap diterbangkan menggunakan pesawat Airfast, yang semula dijadwalkan lepas landas pukul 10.15 WIT. Pesawat ini akan mengantar jenazah ke beberapa kota, yaitu dari Biak, Makassar, dan Medan.

Satu jenazah akan diturunkan di Biak, Ambon, yaitu Lewi Mofu. Sementara di Makassar, Sulawesi Selatan, empat jenazah akan diturunkan, yaitu Febry Tandungan, Gito Sikku, Wandi, dan Herman Susanto. Sementara dua jenazah akan diantar ke Medan, Sumatera Utara adalah Ferry Edison P dan Lestari Siahaan.

Seperti diberitakan sebelumnya, atap terowongan tersebut runtuh sekitar pukul 07.30 WIT, Selasa (14/5/2013). Reruntuhan atap menimpa ruang kelas 11 QMS Underground yang saat itu digunakan 40 orang yang tengah mengikuti program pelatihan. Dua orang dapat menyelamatkan diri, yakni instruktur kelas, Kristian Sitepu, dan peserta pelatihan yang duduk di dekat pintu, Tito. Sementara 38 orang lain tertimbun runtuhan bebatuan yang diperkirakan beratnya tak kurang dari 500 ton.

Berdasarkan keterangan sementara yang dihimpun dari para korban selamat, sebelum kejadian runtuhnya atap terowongan, dari plafon ruangan terdengar tikus berlarian. Tak berselang lama, tiba-tiba ruang kelas tertimbun reruntuhan bebatuan. Penyelamatan para korban sempat berjalan lambat pada hari-hari pertama, karena kondisi terowongan yang masih rawan terjadi reruntuhan susulan. Tujuh korban terakhir dapat dievakuasi pada Selasa (21/5/2013) malam.

Editor :

Palupi Annisa Auliani

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.