01 Desember 2012

KOMPAS.com: Anas Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui

KOMPAS.com
News and Service // via fulltextrssfeed.com
Anas Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau Terlampaui
Nov 30th 2012, 22:12

Anas Sekali Dayung, Dua Tiga Pulau TerlampauiKOMPAS IMAGES/ANDREAN KRISTIANTO Putri Almarhum Gus Dur,Yenny Wahid, menerima kedatangan Ketua umum DPP Demokrat, Anas Urbaningrum dan Ketua Komisi VII, Sutan Bhatoegana (kanan ke kiri) di Ciganjur, Jaksel, Kamis (29/11/2012). Kedatangan mereka di kediaman Gus Dur untuk meminta maaf atas ucapan Bhatoegana dalam diskusi tentang lengsernya Gus Dur.

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Senior (LIPI) Siti Zuhro mengatakan, tindakan Anas Urbaningrum yang memediasi permintaan maaf Ketua DPP Partai Demokrat Sutan Bhatoegana kepada keluarga besar KH Abdurrahman Wahid dan warga nahdliyin menjadi keuntungan politis tersendiri bagi Partai Demokrat.

"Langkah Anas, sekali mendayung dua tiga pulau terlampaui," kata Siti di Jakarta, Jumat (30/11/2012).

Siti menjelaskan, figur Sutan di mata keluarga Gus Dur dan Nahdilyin teramat jauh. Hal itu berbeda dengan Anas. Figur Anas sangat dekat karena merupakan orang Nahdilyin juga. Sekaligus, permintaan maaf Sutan menjadi penghormatan pada Almarhum Gus Dur.

"Bagi keluarga Gus Dur, orang yang mau minta maaf itu poin tersendiri. Bukan hanya untuk keluarga Gus Dur, tapi juga Gusdurian. Ini adalah lucky buat Demokrat," tandasnya.

Permintaan maaf Sutan, lanjut Siti, merupakan pintu masuk bagi Anas mendekati keluarga Gus Dur. Hal itu, secara politis tidak dapat dilepaskan dari anjloknya elektabilitas Demokrat.

Sebab itu, merapat kepada keluarga Gus Dur adalah salah satu pilihan politis. Dengan mendekat kepada keluarga Gus Dur, pungkas Siti, Demokrat dapat mendulang banyak suara di pemilu legislatif tahun depan.

Sebelumnya, Sutan akhirnya meminta maaf kepada keluarga besar Nahdlatul Ulama (NU) terkait pernyataannya, yang dianggap menghina almarhum Gus Dur.

"Jika ada yang kurang berkenan, segera saya ralat sekaligus mohon maaf. Semoga ini bisa berdampak positif agar tidak terjadi ketegangan, terutama agar keluarga besar NU dan Partai Demokrat tidak ada gesekan," kata Sutan di kediaman keluarga Gus Dur di Ciganjur, Jakarta Selatan, Kamis (29/11/2012).

Sutan mengatakan, permintaan maaf baru disampaikannya hari ini karena harus berkonsultasi dengan internal Partai Demokrat. Ia tak ingin ada salah tafsir atas pernyataannya.

"Saya berkata jujur, dibilang salah. Serba salah. Saya diam, dibilang sombong. Makanya saya konsultasi dulu," katanya.

Dalam sebuah diskusi, Sutan menyebutkan bahwa KH Abdurahman Wahid atau Gus Dur, Presiden ke-IV RI, lengser karena skandal korupsi Buloggate dan Bruneigate. Pernyataan ini mengundang kemarahan dari kalangan Nahdliyin dan pengagum Gus Dur. Hal inilah yang memicu protes warga nahdliyin.

You are receiving this email because you subscribed to this feed at blogtrottr.com.

If you no longer wish to receive these emails, you can unsubscribe from this feed, or manage all your subscriptions

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.